Apa itu SDLC?
SDLC, atau Software Development Life Cycle, adalah kerangka kerja yang mendefinisikan tahapan-tahapan yang terstruktur dalam proses pengembangan perangkat lunak. Tujuannya untuk memastikan produk yang dihasilkan berkualitas tinggi dan sesuai dengan kebutuhan.
Mengenal Metode SDLC Agile
Jika metode SDLC tradisional seperti Waterfall berjalan secara linear dan berurutan, Agile mengedepankan pendekatan yang lebih adaptif, fleksibel, dan kolaboratif. Agile bukan sebuah metode tunggal, melainkan sebuah mindset atau filosofi yang diatur oleh Agile Manifesto. Filosofi ini menekankan:- Individu dan interaksi lebih dari proses dan alat.
- Perangkat lunak yang berfungsi lebih dari dokumentasi yang komprehensif.
- Kolaborasi pelanggan lebih dari negosiasi kontrak.
- Tanggapan terhadap perubahan lebih dari mengikuti rencana yang kaku.
Ilustrasi: Bayangkan Anda sedang membangun sebuah rumah.
Contoh Kasus: Sebuah perusahaan startup ingin mengembangkan aplikasi e-commerce baru. Tim memilih Agile karena mereka tahu pasar sangat dinamis dan kebutuhan pelanggan bisa berubah dengan cepat.
Sprint 1: Tim fokus pada fitur dasar, yaitu pendaftaran pengguna dan daftar produk. Di akhir minggu, mereka punya prototipe yang bisa diuji.
Sprint 2: Berdasarkan feedback pengguna, mereka menambahkan fitur keranjang belanja dan checkout.
Sprint 3: Mereka menambahkan fitur rating dan ulasan produk.
Dengan pendekatan ini, mereka bisa merilis versi aplikasi yang bisa digunakan secepat mungkin dan terus menyempurnakannya berdasarkan masukan nyata dari pengguna.
Blog Post 2: Scrum: Kerangka Kerja Agile Paling Populer
Apa itu Scrum? Scrum adalah salah satu kerangka kerja paling populer untuk menerapkan filosofi Agile. Scrum membagi pekerjaan menjadi iterasi pendek yang disebut Sprint. Kerangka ini sangat terstruktur, dengan peran, acara, dan artefak yang jelas.
Peran dalam Tim Scrum:
Product Owner: Bertanggung jawab atas product backlog (daftar pekerjaan yang diprioritaskan) dan memastikan tim mengerjakan hal yang paling bernilai.
Scrum Master: Fasilitator tim. Dia memastikan tim mengikuti prinsip dan praktik Scrum, serta membantu menghilangkan hambatan.
Development Team: Kelompok lintas fungsi yang mengerjakan tugas-tugas dalam sprint.
Alur Kerja Scrum:
Product Backlog: Product Owner membuat daftar semua fitur, perbaikan, dan tugas yang harus dikerjakan.
Sprint Planning: Tim memilih tugas dari product backlog yang akan dikerjakan dalam sprint berikutnya dan membuat Sprint Backlog.
Sprint: Periode waktu singkat (biasanya 1-4 minggu) di mana tim bekerja untuk menyelesaikan tugas dari sprint backlog.
Daily Scrum: Pertemuan harian singkat (sekitar 15 menit) di mana setiap anggota tim berbagi progres dan hambatan.
Sprint Review: Di akhir sprint, tim menunjukkan hasil kerja mereka (disebut Increment) kepada stakeholder.
Sprint Retrospective: Tim berdiskusi tentang apa yang berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki untuk sprint selanjutnya.
Ilustrasi: Bayangkan Anda sedang membuat sebuah album musik.
Sprint Planning: Anda memilih 3 lagu yang akan digarap dalam sebulan ke depan.
Sprint: Tim Anda mulai merekam vokal, musik, dan melakukan mixing untuk ketiga lagu tersebut.
Daily Scrum: Setiap pagi, tim berkumpul sebentar untuk berbagi progres. "Kemarin saya sudah selesai merekam gitar untuk lagu 1. Hari ini saya akan mulai mixing," kata salah satu anggota tim.
Sprint Review: Di akhir bulan, Anda menunjukkan versi demo 3 lagu tersebut ke produser.
Sprint Retrospective: Anda berdiskusi dengan tim. "Perekaman vokal berjalan lancar, tapi mixing butuh waktu lebih lama. Mungkin di sprint depan kita alokasikan waktu lebih banyak untuk mixing," saran Anda.
Blog Post 3: Kanban: Visualisasi Alur Kerja yang Efisien
Apa itu Kanban? Kanban adalah kerangka kerja Agile yang fokus pada visualisasi alur kerja dan membatasi jumlah pekerjaan yang sedang berlangsung (Work in Progress atau WIP). Tidak seperti Scrum yang berbasis sprint, Kanban adalah metode berkelanjutan.
Papan Kanban: Pekerjaan divisualisasikan menggunakan papan, baik fisik (seperti sticky notes) maupun digital. Papan ini biasanya dibagi menjadi beberapa kolom yang merepresentasikan tahapan dalam alur kerja, seperti:
To Do (Untuk Dikerjakan)
In Progress (Sedang Dikerjakan)
Testing (Sedang Diuji)
Done (Selesai)
Prinsip Kanban:
Visualisasikan Alur Kerja: Papan Kanban membuat pekerjaan terlihat jelas bagi semua orang.
Batasi WIP: Tim hanya boleh mengerjakan sejumlah tugas tertentu pada satu waktu. Ini mencegah multitasking dan memastikan fokus.
Kelola Aliran: Fokus pada kelancaran pergerakan tugas dari satu kolom ke kolom lain.
Terapkan Perbaikan Berkelanjutan: Tim selalu mencari cara untuk meningkatkan efisiensi.
Ilustrasi: Bayangkan Anda mengelola sebuah kafe.
Papan Kanban: Anda punya papan dengan tiga kolom: "Pesanan Masuk" (To Do), "Sedang Dibuat" (In Progress), dan "Siap Disajikan" (Done).
Visualisasi: Setiap pesanan (misalnya, "Latte", "Cappuccino") ditulis di sticky notes dan diletakkan di kolom "Pesanan Masuk".
Batasi WIP: Anda hanya memperbolehkan dua pesanan untuk berada di kolom "Sedang Dibuat" pada satu waktu, memastikan barista tidak kewalahan dan setiap kopi dibuat dengan kualitas terbaik.
Alur Kerja: Ketika barista selesai membuat kopi, dia memindahkan sticky note ke kolom "Siap Disajikan", dan mengambil pesanan baru dari kolom "Pesanan Masuk".
Contoh Kasus: Tim customer support sebuah perusahaan menggunakan Kanban untuk mengelola tiket keluhan pelanggan.
Setiap keluhan (bug report) masuk ke kolom To Do.
Tim mengambil satu tiket dari To Do dan memindahkannya ke In Progress.
Setelah keluhan ditangani, tiket dipindahkan ke Done.
Manajer bisa melihat dashboard Kanban untuk memantau berapa banyak keluhan yang sudah ditangani dan berapa yang masih menunggu.
Blog Post 4: Memahami Sprint: Jantung dari Metode Scrum
Apa itu Sprint? Sprint adalah sebuah periode waktu yang singkat dan terikat (time-boxed), di mana tim Scrum bekerja untuk menyelesaikan sejumlah tugas yang telah disepakati sebelumnya. Sederhananya, sprint adalah siklus kerja dalam Scrum.
Karakteristik Sprint:
Durasi Tetap: Biasanya 1-4 minggu. Setelah durasi ditetapkan, tidak boleh berubah.
Tujuan yang Jelas: Setiap sprint punya Sprint Goal yang menjadi fokus utama tim.
Tidak Boleh Ada Perubahan Besar: Setelah sprint dimulai, tim harus fokus menyelesaikan tugas yang sudah dipilih. Perubahan besar tidak disarankan karena bisa mengganggu alur kerja.
Hasil yang Diharapkan: Di akhir setiap sprint, tim harus menghasilkan sebuah increment produk yang potensial untuk dirilis dan berfungsi.
Ilustrasi: Bayangkan sebuah maraton yang dibagi menjadi beberapa etape pendek.
Maraton (Proyek): Pengembangan produk secara keseluruhan.
Etape (Sprint): Setiap etape adalah sprint yang punya jarak dan tujuan yang jelas.
Sprint Goal: "Kita akan lari 5 km pertama hari ini."
Sprint Backlog: Daftar tugas yang harus diselesaikan untuk menyelesaikan 5 km, misalnya, "Lari 1 km pertama, lari 1 km kedua, dst."
Setelah menyelesaikan setiap etape, Anda bisa beristirahat (Sprint Review & Retrospective), mengevaluasi, dan merencanakan etape berikutnya.
Contoh Kasus: Sebuah tim pengembang sedang membuat aplikasi untuk memesan makanan online. Mereka memutuskan untuk menggunakan sprint berdurasi dua minggu.
Sprint 1 Goal: "Membangun fitur dasar untuk melihat daftar restoran dan menu."
Tugas: Desain antarmuka menu, integrasi data restoran, dan implementasi search bar.
Sprint 2 Goal: "Membangun fitur keranjang belanja dan checkout."
Tugas: Membuat fungsi "tambah ke keranjang", implementasi proses checkout, dan integrasi metode pembayaran.
Dengan membagi pekerjaan menjadi sprint, tim bisa mengelola kompleksitas, beradaptasi dengan cepat, dan secara konsisten memberikan value kepada pelanggan.
